September 2011
2 posts
SADGENIC: Percakapan Ruang Tunggu
Pagi ini aku berada di ruang tunggu bandara dengan dirajam gelisah pada jarum jam yang tak mau bergerak lebih cepat dari yang aku harap. Sesegera mungkin aku ingin meletakkan tubuhku di kursi dan terbang bersanding dengan awan untuk tiba di kotanya. Meskipun berkali kali dia menerbangkan aku dengan kata-kata yang penuh candu. Tapi saat saat ini, sungguh membuatku ingin melompati waktu.
Awan...
Zarry Hendrik: Membujuk Seorang Rahne
Mungkin kita telah membuat mereka gemas, mungkin kita begitu menggemaskan. Aku jadi ingat pada suatu waktu, di mana bola mataku didekap oleh cahaya yang terpancar dari caramu senyum dengan tersipu. Waktu itu adalah aku dan kamu, itu kita yang baru kenal. Sekarang waktu sudah jauh berjalan, detik demi detik telah menumpuk menjadi gunungan kata untuk aku meluapkan rindu dan memelukmu lagi di...
March 2011
9 posts
1 tag
Zarry: "Apa kamu suka membaca?"
Rahne: "Hampir setiap hari."
Zarry: "Boleh aku menulis untukmu?"
Rahne: "Akan kubalas dengan senang hati."
1 tag
Aku kagum pada tubuhmu, di tiap titik bagi cahaya dapat menjatuhkan terangnya.
– Zarry Hendrik
1 tag
Rahne: "Buatkan aku puisi! Aku jadi candu lihai jarimu!"
Zarry: "Jemariku, mereka menghamba pada banyak keindahan hidup. Termasuk kamu."
1 tag
“Aku bisa terpelanting, kau tahu?”
“Tak apa. Tetaplah mendarat di pangkuanku!”
1 tag
Nama Zarry sering berkelebat di kepalaku. Melilit nadi. Melupanya, kurasa aku...
– Rahne Putri
1 tag
Aku sering menyebut nama Rahne di dalam hati. Ya! Aku senang mendengar nama...
– Zarry Hendrik
1 tag
Zarry: "Ne, memejamlah karena pagi sudah menjadi buta!"
Rahne: "Ah, aku belum mengantuk, Zar!"
Zarry: "Batu! Aku sendirian di alam mimpi."
1 tag
Jika lelap dan pejamku telah jadi milikmu, ambillah segala sadarku! Karena semua...
– Rahne Putri
1 tag
Zarry: "Kaulah kata yang aku tulis, yang ingin kukatakan dengan indah, yang ingin kulakukan dengan tulus."
Rahne: "Akulah kata yang kau katakan, selama kau sanggup mengatakannya."
December 2010
8 posts
Part Terakhir
zarry: Rahne?
Kerbau betina, itukah hewan yang paling cantik?
Baiklah, aku menunggunya bangun, gara-gara dikeroyok lalat.
Hmm..
rahne: ZARRY!
Aku baru bangun dan KURANG AJAR!
INI HARI MINGGU, DEH!!!
zarry: Eh, “Rahne Besar” sudah bangun rupanya.
Bagaimana mimpinya? Buruk?
rahne: Aku baru bangun, Zarry!
Belum sampai otakku sanggup menyusun kata, menjelaskan mimpiku tadi.
Mungkin...
Part 24
Teruntuk Rahne, nama yang selalu sanggup aku katakan,
“Tuhan!”
Ini serius! Aku menyebut nama Tuhan. Pantas kata-katamu seperti magnet. Rahne kecil menulis surat untuk Rahne besar???!!! Idemu terdengar bagai muzizat. Pantas menurutku kamu amat jenius. Kecilnya saja sudah terpikir untuk menulis surat kepada dirinya di masa depan. Hebat! Aku penasaran, Ne, atas apa isi surat yang ditulis Rahne...
Part 23
Teruntuk Zarry
Kau tahu begitu menerima emailmu aku seperti beradu cepat dengan kilat untuk membalas emailmu. Zarrryyy aku senang kau menyajikan senyum lagi untukku. :D :D
Aku tidak pernah menduga dalam hidupku kau bisa berubah menjadi batu dan dengan kokohnya tidak bergeming dari deburan ombak maafku. Ah, aku pikir kau sudah layak disandingkan dengan Malin Kundang jika kau benar benar tak...
Part 22
To: Rahne
Tidak banyak orang beruntung yang tahu nomor handphone-ku. Petiklah pesanku ini sebagai hadiah atas indah pinta maafmu! Hehehe..
Hey! Aku tidak sengaja, seakan mengganti nomor untuk menghindarimu. Aku hanya sudah mulai terganggu dengan banyak orang tak waras yang mengirimiku pesan. Akan kuceritakan saat aku punya cukup pulsa dan baterei untuk durasi cerita yang panjang. Tetapi...
Part 21
Seperti helaian bulu-bulu yang tersusun untuk membungkus sayap merpati, demikianlah kata maafmu. Email terakhirmu mungkin email paling keras yang memukul kepalaku, sehingga aku amat merasa begitu “cuil.” Kerapuhanmu, rasa bersalah yang kau tulis itu tampak datang bagai raksasa.
Tetapi apa aku sudah memaafkanmu? Entahlah.. Semacam bagaimana aku bisa melukiskan keadaanku dengan baik bila kau...
Part 20
Teruntuk Zarry, senyawa pelengkap kata-kataku
Ini sudah seminggu, kau pun tak jua membalas email yang aku lapisi dengan sesal dan maafku. Ya. Rasanya sesak. Kini aku pun merasa hal yang sama dengan yang kau rasa ketika aku sendiri dan kehilangan teman beradu kata.
Zarry, kau penggiring kata kataku menuju makna. Kini kata-kataku berdiri bagai domba yang berkeliaran tak bertuan, siap...
Part 19
Teruntuk Zarry, kutub kutub jemariku.
Zarry..
Untuk kali pertama aku tahu kau menumpahkan lahar dalam setiap huruf huruf yang kau susun untuk sampai di mataku. Emailmu benar-benar memanggang peparuku. Aku sesak dalam asap was was dan lalu merebus bulir air di mataku. Dengan cepat panasnya melintasi pipi dan lalu jatuh ke bumi sehingga tanah yang kupijak yang menopangku berdiri ini tahu...
Part 18
Teruntuk Rahne, mungkin kau masih bernama Rahne,
Aku harus menahan jariku berminggu-minggu untuk memuntahkan kemarahanku. Kau sudah tahu, Ne.. Aku Zarry, Pencinta Kata yang bukan berarti tidak bisa marah dalam tulisan. Namun sebenarnya aku sudah cukup bersabar. Aku pikir kau hanya sedang membuatku penasaran berhari-hari lamanya. Maka sengaja aku tidak mengirimimu reminder karena aku yakin...
November 2010
17 posts
Part 17
To: Rahne
Rahne, maaf aku baru membalasnya. Aku baru bangun dari tidur yang panjang dan kulihat ada 3 panggilan tak terjawab darimu. Kau punya pulsa untuk telepon tetapi tidak ada untuk internet. Menyebalkan! Lebih menyebalkan bahwa tidurku bagaikan mayat. Huh..
Nah, mengingat senyummu bisa memancar sampai ke langit, coba dialihfungsikan sedikit untuk menangkap sinyal internet! Sering-seringlah...
Part 16
To: Zarry Hendrik From : Rahne Putri
Zarry, maaf aku belum sempat membalas emailmu, aku belum mengantarkan pundi-pundi rupiah yang merampas jaringan internet dari hidupku untuk beberapa saat. Oiya, aku sedang mencari sesuatu. aku ingat masa laluku pernah menitipkan sesuatu untuk masa depanku. Nanti kuceritakan di email. Jaga dirimu Zarry, aku masih ingin membuka lembaran-lembaran hidupmu...
Part 15
Teruntuk Rahne, magnet dalam jariku,
Atas segala kata yang kau tulis dengan lantang, aku memajangnya di ruang bergelimang kenang.
#cintaadalah ketika kau menangis, dan dia yang terluka.
Membaca kalimat di atas, aku seperti ikan yang terpaksa lompat dari kolam kemudian terpelanting di atas lantai. Setelah kata cintamu menyelam di dalam air, kau seakan hendak memangsaku dengan taring makna yang...
Part 14
Teruntuk Zarry, teman jemariku yang mengembara di padang aksara.
MAAF!!
Aku menuliskannya dengan huruf besar agar kau tau betapa aku merasa bersalah padamu dengan besar-besar dan juga tanda seru yang serupa pentung kujadikan saksi betapa aku telah memukuli waktuku karena ia tidak menyediakan waktu untuk cepat membalas emailmu. Tolong bentuk lingkar pelangi dari bibirmu dengan senyum agar...
Part 13
Teruntuk Rahne, sorotan para penghuni langit,
Terdapat sesuatu dalam otakku, sesuatu serupa mesin waktu. Aku menekan tombol masa lalu, mencoba kembali ke masa-masa di mana kita baru pertama kali kenal. Dan kau benar. TWITTER! (Aku menjetikkan jari tepat di depan layar).
Masuk akal, Rahne!
Masih ingatkah kamu di mana hashtag #cintaadalah yang mempertemukan kita kala itu? Sebelum kuteruskan,...
Part 12
Teruntuk Zarry, tempat kata-kataku menyemayamkan diri.
Sebelum aku membalas emailmu. Ijinkan aku mengakui bahwa aku merasa tercambuk di paragraf terakhir emailmu, bagian sebelum puisi. Uh, dasar Ksatria Aksara, seenaknya bilang masih adakah perbendaharaan kataku? hiks. Untung kau dan huruf hurufmu selalu datang membawa sekop, menggali kata-kataku yang sering bersembunyi :))
Oke, sekarang ribuan...
Part 11
Teruntuk Rahne, sebutir telur dalam jariku, yang bisa menetas dalam hatiku.
Sekarang jari jemariku berjingkrak-jingkrakan. Tentu bukan karena girang. Keyboard pada laptopku terasa bagai aspal panas yang mudah melepuhkan tangan. Aku tidak takut, hanya agak gemetaran. Kini aku melihat handphone menjadi serupa dengan jenazah korban keterkenalanmu, Rahne! Oleh karena peristiwa yang kau ceritakan, aku...
Part 10
Send Rahne a message
Rahne, aku sedang tidur-tiduran sambil menyimak timeline dan seakan kotak emailku berdering di bawah bantal. Itu darimu dan isinya mengagetkan. Segera kubalas emailmu!!!
2 minutes ago
Part 9
Teruntuk Zarry, magnet mesin tik di kepalaku.
Entah kenapa ketika melihat emailmu, seakan ada mesin di otak yang membagikan nomor pada masing-masing huruf yang berebut disajikan di depanmu. Mereka menunggu doorprize, tersaji hangat dalam sapuan matamu pada layar adalah hadiahnya.
Ya, mereka sudah menanti keluar dari kepalaku untuk segera berjejer dibacamu, sedari saat aku di Gn. Bromo,...
Part 8
To: Rahne
Tuan kata, aku tersanjung oleh pesanmu. Itu cuma SMS, namun terasa bagai gambaran novel yang akan terbit di musim panas. :)
Ngomong-ngomong, kemarin aku berbincang-bincang dengan Mol. Masih ingatkah kau dengannya, ksatria komputer yang kita kenal di dunia maya? Bila bumi itu wajahnya, mungkin kacamatanya adalah satelit. Dia bertanya mengapa kau jarang ada di timeline.. Hal ini...
Part 7
From: Rahne To: Zarry
Zarry, aku sedang berada di jangkauan dimana tukang pos elektronik tak mampu mengantarkan surat elektronik untukmu. Mana mau mereka menaiki gunung untuk mengantarkan barisan abjadku kehadapanmu.
HP ku pun sebentar lagi akan putus hubungan sementara dengan sinyal. Ya, aku sedang menuju Gn. Bromo tempat kau berkhayal akan menggulingkanku diatasnya, sementara itu belum...
Part 6
07.43 WIB
Saya: Rahneeeeeeeeee!!! rahne: Sebentar.. Saya: Kurang ajar! Hargai keajaiban ini, Rahne!!! rahne: Aku mau ke kamar mandi, Zarry! Saya: Baiklah.. Jangan nyanyi-nyanyi di sana! Nanti kelamaan! rahne: Aku harus berdandan untuk chat denganmu ;) Saya: Jangan pancing aku sekiranya kau mudah sign out kapan saja! rahne: Hehehehe…
Saya: Bisa-bisanya tertawa. Awas nanti kubuat kau tidak pernah...
Part 5
Teruntuk Rahne, ketetapanku di atas kertas,
Aku sedang berpikir bahwa memang benar, panjang sekali emailnya. ~ Hahahaha.. Tidak tahu Rahne, jari menari begitu saja. Seperti ada lagu yang tiada ujung di dalam kepalaku. Apalagi bila harus menari di depan matamu, dengan senang hati jemari melakukannya. Lembar khan panggung hurufku! Tetapi jangan bilang aku Mr. Pelit! Bukankah setelah aku menerima...
Part 4
Teruntuk Zarry, sobatku yang tampan yang suka memuji diri.
Panjang sekali balasan emailmu!! sebenarnya ini lebih mudah dibicarakan lewat media berderet angka yang bisa kaupencet dan suaramu sendiri yang mengantar semua cerita ini untuk sampai di telingaku. Ah, tapi aku lupa. Kita ini pelupa!! lebih baik kita menuliskan semua ini pada kertas maya dan membiarkan jemari kita menari nari di atas...
Part 3
Teruntuk Rahne, sahabatku yang agak cadel :))
Telah kudengar panggilanmu, mendung beradu mewakilkannya. Tetap saja, balasanmu datang lama sekali! Tercatat 5 hari sudah aku menantikan email darimu. Sebuah siksa perlahan, jarum detik serasa memecut pantatku yang terduduk lama di depan layar. Untunglah di hari ini, kau muncul di waktu tepat.
Hujan deras sedang sering-seringnya melanda kota Jakarta....
Part 2
Teruntuk Zarry, idola jemariku.
ZARRY!!
Aku gunakan huruf kapital agar kau tahu aku memanggilmu besar besar seraya berteriak bahwa aku pun merindumu. Kau ingat kata kata itu? ;). Maaf aku baru bisa membalas surat elektronik ini sekarang, padahal aku sudah membacanya beberapa hari lalu. Biarlah, selain aku sedang dikejar waktu yang akan membayarku, aku sengaja membuat mu menghitung detik hingga...
Part 1
Teruntuk Rahne, pemicu jantung jariku,
Apakah kau merasa aneh? Aku rasa tidak. Kita telah berteman sejak lama, kau kenal betul apa maksudku. Maka sejak kemulaan kau membaca surat ini, ingatlah kekhasan mataku melirik genit! Hehehe..
Rahne!
Hey, aku sedang memanggilmu seraya tertera tanda serunya. Apakah kau tergoda? Kukenal betul siapa kamu. Jarimu seperti ikan, sebatang kara di dalam empang....